Prestasi Gemilang: Food Estate Gunung Mas Panen Jagung 6,5 Ton per Hektare

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini mengumumkan kesuksesan food estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dalam panen jagung yang mencapai 6,5 ton per hektare. Menurutnya, pencapaian ini membuktikan bahwa teknologi pertanian yang diterapkan di lahan tersebut sangat efektif dan sesuai dengan ekspektasi.

Dalam keterangan resmi pada Rabu (24/1), Menteri Amran Sulaiman menyampaikan keyakinannya sejak awal menjabat bahwa pemanfaatan lahan food estate Gunung Mas akan berhasil. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi pertanian di Indonesia telah mencapai tingkat yang tinggi, dan hasil panen jagung yang mencapai 6,5 ton per hektare menjadi bukti nyata dari kesuksesan tersebut.

Lahan food estate Gunung Mas seluas 10 hektare menjadi fokus penanaman jagung oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Pertahanan. Amran Sulaiman juga mencatat bahwa keberhasilan food estate tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses yang melibatkan penggunaan benih unggul, irigasi optimal, dan pemupukan yang sesuai.

Selain Gunung Mas, Amran Sulaiman juga menyoroti pencapaian food estate di Humbang Hasundutan (418,29 hektare), Temanggung, dan Wonosobo (907 hektare) yang telah berhasil panen komoditas hortikultura. Pencapaian di Kalimantan Tengah, Sumba Tengah (NTT), dan Kabupaten Keerom Papua juga menunjukkan peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian.

Namun, tidak semua pihak sepakat dengan keberhasilan food estate Gunung Mas tersebut. Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, menyatakan pandangannya bahwa food estate yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo dan dieksekusi oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, termasuk di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dianggap sebagai kegagalan total.

Menurut Santosa, kegagalan sudah terjadi sejak awal pemilihan lahan food estate di Gunung Mas. Lahan tersebut, menurutnya, bukanlah lahan yang tepat untuk bercocok tanam karena merupakan tanah pasir. Ia juga meragukan keberlanjutan program food estate dengan merinci bahwa keberhasilan sebuah program harus diukur dari sisi ekonomi, yakni apakah program tersebut memberikan keuntungan bagi petani.

“Saya pernah melakukan pengujian di Blok A2 lahan food estate di Kalteng. Hasilnya hanya 0,8 ton per hektare dari 93 hektare. Jadi, ini yang terjadi. Ketika berhasil atau tidak harus bicara di sana (data),” ungkap Santosa.

Dengan perdebatan ini, terlihat bahwa wacana mengenai keberhasilan food estate masih menjadi sorotan dan perdebatan di kalangan masyarakat dan ahli pertanian. Tetapi, panen jagung 6,5 ton per hektare di Gunung Mas memberikan optimisme terkait potensi dan kemajuan teknologi pertanian di Indonesia.

Demikian informasi seputar hasil kesuksesan dari food estate Gunung Mas. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Freecaretips.Com.